Tampilkan posting dengan label Film. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Film. Tampilkan semua posting

HAKIKAT SUTRADARA

Seorang sutradara harus bisa memberi motivasi dan semangat kebersamaan dalam kelompok untuk menyatukan visi dan misi pementasan antar mereka yang terlibat dalam pementasan suatu drama. Kerja penyutradaan dalam sebuah pementasan merupakan kerja perancangan.

Kerja penyutradaraan merupakan kegiatan perancangan panggung dapat berupa penciptaan estetika panggung maupun ekspresi eksperimental. Pameran dalam sebuah pementasan seni teater. Persiapan tersebut meliputi persiapan olah tubuh, olah suara, penghayatan karakter serta teknik-teknik pemeranan. Persiapan seorang pemeran dianggap penting karena pemeran adalah seorang seniman yang mengekspresikan dirinya sesuai dengan tuntutan baru dan harus memiliki kemampuan untuk menjadi ’orang baru’. Pemeran didefinisikan pula sebagai tulang punggung pementasan, karena dengan pemeran yang baik, tepat, dan berpengalaman akan menghasilkan pementasan yang bermutu. Pementasan bermutu adalah pementasan yang secara ideal mampu menterjemahkan isi naskah. image

Walaupun di lain pihak masih ada sutradara yang akan melatih dan mengarahkan pemeran sebelum pentas, tetapi setelah di atas panggung tanggungjawab itu sepenuhnya milik pemeran. dan praktek tata artistik yang meliputi; tata rias, tata busana, tata cahaya, tata panggung, dan tata suara. Sebagai komponen pendukung pokok, keberadaan tata artistik dalam pementasan teater sangatlah vital. Tanpa pengetahuan dasar artistik seorang sutradara atau pemain teater tidak akan mampu menampilkan kemampuannya dengan baik.  Persesuaian dengan tata artistik yang menghasilkan wujud nyata keindahan tampilan di atas pentas adalah pilihan wajib bagi para pelaku seni teater. Sebuah pertunjukan teater yang berlangsung di atas panggung membutuhkan proses garap yang lama mulai dari (penentuan) lakon, penyutradaraan, pemeranan, dan proses penataan artistik.

Dalam setiap tahapan proses ini melibatkan banyak orang (pendukung) dari berbagai bidang sehingga dengan memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing maka kerja penciptaan teater akan padu. Kualitas kerja setiap bidang akan menjadi harmonis jika masingmasing dapat bekerja secara bersama dan bekerja bersama akan berhasil dengan baik jika semua elemen memahami tugas dan tanggung jawabnya. Itulah inti dari proes penciptaan seni teater, “kerja sama”.

PENULISAN NASKAH PROGRAM VIDEO

A. PENGANTAR

Kegiatan awal yang perlu kita lakukan dalam pengembangan program video adalah penulisan naskah (lazim disebut skenario). Menulis naskah program video berbeda dengan menulis naskah novel, essay, dan buku/karya ilmiah yang lebih menekankan pada pola berpikir literer, sedangkan menulis naskah program video lebih berpikir operasional untuk mewujudkan visualisasi ide. Atas dasar ini penulis naskah program video dituntut kreatif dalam menerjemahkan konsep-konsep yang abstrak dan konkrit menjadi bentuk visual sesuai dengan karakteristik media video. Program video yang kita buat hendaknya menarik dan sesuai kebutuhan khalayak/pemirsa sehingga program tersebut akan diikuti dengan baik oleh khalayak selama ditayangkan. clip_image001

B. PERISTILAHAN UMUM PENULISAN NASKAH

Seorang penulis naskah program video sebelum mekakukan penulisan naskah perlu memiliki pengetahuan tata peristilahan yang umum yang digunakan dalam pertelevisian/video sehingga tidak akan menimbulkan salah tafsir diantara kerabat produksi dalam memproduksi program video tersebut. Tata peristilahan yang umum digunakan dalam penulisan naskah video menurut I Wayan Inten dan Mumung Bastaman (1988: 8) dapat dikategorikan menjadi empat macam yaitu:

  1. Pengambilan gambar:

a. Shot: munculnya gambar pada monitor dari menekan start kamera sampai stop.

- Two shot (2 S) muncul gambar dua gambar dimonitor

- Three shot (3 S) muncul gambar 3 orang dimonitor

- Group shot: muncul gambar sekelompok orang dimonitor

    1. Very Close Up (VCU) atau Extreme Close Up (ECU): memperlihatkan gambar secara detail.
    2. Big Close Up (BCU) atau Big Close Shot (BCS): memperlihatkan wajah dari dahi sampai dagu.
    3. Close Up (CU) atau Close Shot (CS): memperlihatkan seluruh wajah atau bagian suatu benda.
    4. Medium Close Up MCU) atau Medium Close Shot disebut juga Chest atau bust shot: memperlihatkan dari kepala sampai dada.
    5. Medium Shot (MS) pengambilan gambar dari kepala sampai pinggang.
    6. Medium Long Shot (MLS) disebut juga knee shot: menampakkan kepala sampai lutut.
    7. Long Shot (LS) menampakkan seluruh tubuh/badan manusia.
    8. Over Shoulder Shot (OSS) pengambilan dua orang yang berhadap-hadapan dari atas bahu, dipergunakan bila sedang bercakap-cakap.
  1. Penggunaan kamera (misalnya Panning (PAN): gerakan kamera menoleh ke kanan atau ke kiri; Tilting (TILT); gerakan kamera ke atas atau ke bawah; Zoom (Zoom in atau Zoom out): gerakan kamera yang menghasilkan gambar seolah-olah mendekat atau menjauh), dll.
  2. Peristilahan yang berkaitan dengan tata suara, misalnya:

a. Fade in: musik/suara perlahan-lahan diperdengarkan makin lama makin mengeras.

b. Fade out: musik/suara diperlemah sampai akhirnya tidak terdengar lagi.

c. Music under: musik yang lemah tetapi masih terdengar mengiringi suara lainnya

d. Sound Effects (FX): suara selain suara manusia.

  1. Peristilahan yang berkenaan dengan transisi gambar, misalnya:

a. Cut: pergantian dari satu shot ke shot berikutnya dengan memotong gambar terdahulu langsung dengan gambar berikutnya secara tiba-tiba.

b. Dissolve: perpindahan gambar ke gambar berikutnya dengan menghilangkan gambar terdahulu secara perlahan-lahan, dan bersamaan dengan itu dimunculkan gambar berikutnya yang kelihatan semakin jelas.

c. Super impose (S/I): bila dua atau lebih gambar atau caption saling bertindihan. Misal gambar pembawa acara dengan tulidsan orang tersebut.

C. FORMAT PROGRAM VIDEO

Ada beberapa bentuk format program video yang dapat kita kembangkan seperti:

  1. Dokumenter: program yang menyajikan suatu kenyataan berdasarkan pada fakta objektif yang memiliki nilai esesnsial dan eksistensial, artinya menyangkut kehidupan, lingkungan hidup dan situasi nyata.
  2. Drama: merupakan sebuah ceritera/kisah yang dramatis dalam arti menampilkan reaksi orang-orang apabila dihadapkan kepada suatu konflik. Konflik dapat terjadi antara orang dengan orang; seorang dengan banyak orang; dua pendapat yang berbeda, dan seorang dengan kata hatinya sendiri.
  3. Formal: penyajian yang dilakukan presenter dengan diselingi visualisasi yang mendukung.
  4. Majalah: Program ini mirip dengan feature, hanya saja pada majalah tidak hanya membahas satu pokok permasalahan tetapi membahas satu bidang kehidupan.
  5. Feature: suatu program yang mengkaji suatu tema/pokok bahasan melalui berbagai pandangan yang saling melengkapi, menyoroti, mengurai, dan disajikan dengan berbagai format, seperti wawancara, sandiwara, dll.
  6. Quiz: merupakan semacam permainan yang biasanya bersifat kompetisi. Ini berguna sekali untuk memperoleh informasi yang sebanyak-banyaknya dalam waktu singkat, melalui cara yang menyenangkan. Bentuk program ini sangat baik untuk mendalami materi yang telah dipelajari.

D. LANGKAH PENULISAN NASKAH

Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam menulis naskah program video yaitu penemuan ide, menulis sinopsis, menulis treatment, menulis skenario.

1. Penemuan ide

Program video baik instruksional maupun non instruksional selalu diawali dengan suatu ide atau gagasan. Gagasan ini muncul oleh karena adanya suatu kebutuhan yang perlu dipecahkan, akan tetapi terkadang juga karena adanya pesanan/instruksi dari pihak tertentu.

Setelah ide tersebut muncul dan ditetapkan idealnya dilakukan riset. Hal ini dilakukan untuk mengumpulkan informasi yang diperlukan sebagai pendukung dalam menulis naskah. Riset tersebut dapat dilakukan dengan cara wawancara, konsultasi dengan pakar, studi literatur, observasi, pengalaman langsung.

Setelah ide ditetapkan dan riset dilalukan, maka perlu dibuat identifikasi program yang meliputi mata kuliah, pokok bahasan/judul program, sasaran/audience, durasi, Tujuan Perkuliahan (umum & Khusus), pokok-pokok materi perkuliahan, penulis naskah, pengkaji materi, pengkaji media, pemain, lokasi, property.

2. Menulis Sinopsis

Sinopsis atau ringkasan dari keseluruhan isi program. Sinopsis biasanya ditulis dalam bentuk uraian yang tidak mengandung dialog. Sinopsis sudah menggambarkan alur penyajian dari pendahuluan sampai penyelesaian/kesimpulan.

3. Menulis Treatment

Treatmen pada dasarnya merupakan urutan isi/materi program yang akan disajikan episode demi episode secara ringkas. Bahasa yang dipakai dalam treatment sudah merupakan bahasa visual sehingga orang yang membacanya akan dapat merasakan alur sajian seperti kita lihat pada monitor/layar.

4. Menulis Skenario

Skenario pada hakekatnya merupakan naskah lengkap. Suatu naskah lengkap meliputi: shooting script, story board, script breakdown, shooting schedule.

a. Shooting Script: naskah video/film dimana dituliskan uraian lengkap setiap adegan (shot), babak (scene), jenis musik, efek suara (sound effects) hubungan antara gambar dan suara, sudut pengambilan kamera, jenis shot, lokasi/ruang, property, sumber visual dan pemain.

Secara garis besar format penulisan shooting script terdiri dari 2 kolom yaitu kolom sebelah kiri (visual) dan kanan (sound). Kolom sebelah kiri dimaksudkan untuk menuangkan ide yang berupa visual/gambar seperti sumber visual, pemain, sudut pengambilan kamera, lokasi, property, sedangkan kolom sebelah kanan untuk menuangkan ide yang berupa suara seperti musik, efek suara dan narasi baik uraian maupun dialog.

b. Story board yaitu deretan gambar atau sketsa dari shooting script untuk melukiskan adegan-adegan utama dari suatu ceritera film/ program video yang akan diproduksi. Gambar atau sketsa tersebut biasanya dibuat pada kartu ukuran 8 x 12 cm dan ditempel pada planning board. Tujuan pembuatan story board diantaranya untuk melihat apakah kontinuitas alur ceritera sudah baik, kesesuaian dengan alur ceritera, ketepatan moment pengambilan gambar.

c. Script breakdown merupakan bagian dari shooting script dimana setiap adegan dikelompokkan berdasarkan lokasi, kostum, pemain/aktor, properti, dan peralatan shooting yang diperlukan.

d. Shooting schedule atau jadwal shooting berisi pengaturan waktu shooting/pengambilan gambar dari masing-masing adegan.

DAFTAR PUSTAKA

Fred Wibowo. ((1997). Dasar-dasar Produksi Program Televisi. Jakarta: Gramedia.

I Wayan Inten dan Mumung Bastaman (1988). Petunjuk Pembuatan dan Penggunaan Program Video. Jakarta: Direktorat Sarana Pendidikan Depdikbud.

Sunaryo Soenarto. (1997). Teknik Penulisan Naskah Program Video Instruksional. Jogjakarta: UPSB IKIP Jogjakarta.

Wahyudi. (1986). Media Komunikasi Massa Televisi. Bandung: Alumni.

Contoh: Lembar Identifikasi

IDENTIFIKASI PROGRAM VIDEO

1. Mata Kuliah : _______________________________

2. Topik Pokok Bahasan : _______________________________

3. Judul Program : _______________________________

4. Tujuan Perkuliahan

Tujuan Umum : _______________________________

Tujuan Khusus : _______________________________

5. Sasaran/audience : _______________________________

6. Format Program : _______________________________

7. Durasi : _______________________________

8. Penulis Naskah : _______________________________

9. Pengkaji Materi : _______________________________

10. Pengkaji Media : _______________________________

11. Pokok-Pokok Materi : _______________________________

_______________________________

Contoh Sinopsis

PROSES PRODUKSI PROGRAM KASET AUDIO

Program kaset audio merupakan salah satu bentuk media yang dapat digunakan dalam pembelajaran baik persekolahan maupun luar sekolah. Untuk memproduksi program kaset audio ini secara garis besar meliputi tiga tahap:

Tahap pertama yaitu persiapan yang meliputi penulisan naskah, latihan baik latihan di luar studio maupun di dalam studio.

Tahap kedua yaitu pelaksanaan produksi yaitu melakukan rekaman di studio.

Tahap ketiga yaitu pasca produksi. Tahap ini intinya melakukan evaluasi terhadap proses dan produk program kaset audio.

Demikian gambaran mengenai proses produksi program kaset audio.

Contoh Treatment

TREATMENT

Scene I

1. PEMBUKAAN: MISIK PEMBUKA

2. PEMBUKAAN PROGRAM

- SUASANA PERKULIAHAN DENGAN MEDIA KASET AUDIO

- CAPTION PENGANTAR PROGRAM

- JUDUL PROGRAM

Scene II

3. SUASANA KUNJUNGAN MAHASISWA KE RRI YOGYAKARTA (MELIPUTI KUNJUNGAN STUDIO, PERKENALAN ALAT, PENJELASAN FUNGSI ALAT, LATIHAN KERING)

Scene III

4. SUASANA DI KAMPUS (MELIPUTI KEGIATAN ANALISIS GBIPM, MENULIS NASKAH, REVIEW NASKAH, LATIHAN BASAH)

Scene IV

5. SUASANA DI STUDIO (MULAI DARI REWKAMAN SAMPAI PENGGUNAAN KASET

Scene VI

7. PENUTUP PROGRAM: MUSIC PENUTUP PROGRAM

8. KERABAT KERJA DAN COPY RIGHT

Format Shooting Script

No

Visual

Audio

Durasi

1

Color bar

Fade in

Fade in: Musik Pembukaan

5”

2

CAPTION/CU

EVY STUDIO

PRODUCTION

CUT

Musik

4”

3

LS

a.Tayangan situasi kampus FIK

b.Tayangan Perkuliahan dengan media

c.Tayangan proses rekaman

CUT

Musik

6”

4

CAPTION/CU

Logo FIK UNY

“Mempersembahkan”

Dissolve

Musik

3”

5

CAPTION JUDUL/CU

PROSEDUR PRODUKSI MEDIA KASET AUDIO

CUT

Fade Down: Musiik Pembukaan

5”

6

LS

Suasana perkuliahan dengan menggunakan media kaset audio. Dosen memutar kaset kemudian bersama mahasiswa mendengarkan kaset tersebut.

ZOOM IN ke MS pelan-pelan ke arah dosen kemudian PAN ke arah mahasiswa

LS

Dosen dan mahasiswa meninggalkan ruang kuliah.

CUT

 

10”

7

dst

     

Shooting Pengambilan Gambar

Bahasa kamera

Jenis shot

· ECU : Extreme close-up (shot yang detail)

· VCU : Very close-up (shot muka, dari dahi ke dagu)

· BCU : Big close-up (seluruh kepala)

· CU : Close up (dari kepala sampai dada)

· MCU : Medium close-up (dari kepala sampai perut)

· MS : Medium shot (seluruh badan sebelum kaki)clip_image001

· Knee : Knee Shoot (dari kepala hingga lutut)

· MLS : Medium long shot (keseluruhan badan)

· LS : Long shot (keseluruhan, ¾ sampai 1/3 tinggi layar)

· ELS : Extra long shot (XLS), long shot yang lebih ekstrim

· TS (Total Shot) : Shot yang menampilkan keseluruhan obyek.

· ES (Establish Shot) : Shot yang menampilkan keseluruhan pemandangan atau suatu tempat untuk memberi orientasi tempat di mana peristiwa atau adegan itu terjadi.

· OSS (Over Shoulder Shot) : Pengambilan gambar di mana kamera berada di belakang bahu salah satu pelaku, dan bahu si pelaku tampak atau kelihatan dalam frame. Obyek utama tampak menghadap kamera dengan latar depan bahu lawan main.

Pergerakan Kamera

· Zoom In : Obyek seolah-olah mendekat ke kamera

· Zoom Out : Obyek seolah-olah menjauh dari kamera

· Pan Up : Kamera bergerak (mendongak) ke atas

· Pan Down : Kamera bergerak ke bawah

· Tilt Up : sama dengan pan up

· Tilt Down : sama dengan pan down
Pan Kiri : Kamera bergeser ke kiri

· Pan Kanan : Kamera bergeser ke kanan

· Track In : Kamera track (bergerak) mendekat ke obyek

· Track Out : Kamera track (bergerak) menjauh dari obyek

· Dolly In : sama track in (memakai alat)

· Dolly Out : sama track out (memakai alat)

Sudut Pengambilan

· High Angle (Bird eye view) : Posisi kamera lebih tinggi dari obyek yang diambil.

· Normal Angle : Posisi kamera sejajar dengan ketinggian mata obyek yang diambil.

· Low Angle (Frog eye view) : Posisi kamera lebih rendah dari obyek yang diambil.

· Obyektive Kamera : Tehnik pengambilan di mana kamera menyajikan sesuai dengan kenyataannya.clip_image001[5]

· Subyektive Kamera : Tehnik pengambilan di mana kamera berusaha melibatkan penonton dalam peristiwa. Seolah-olah lensa kamera sebagai mata si penonton atau salah satu pelaku dalam adegan.

jenis shot lainnya:

  1. Long Shot atau Full Shot, keseluruhan
  2. Wide Shot atau Cover Shot, keseluruhan obyek dalam adegan
  3. Close Shot atau Tight Shot, kelihatan detail
  4. Shooting Groups of people, bisa single shot, two shot, three shot dst sebagai gambaran keseluruhan.

Perlengkapan yang harus disiapkan sebelum shooting

Agar tidak ada perlengkapan shooting yang ketinggalan, biasanya dibuat Pre-rehearseal checkout list. Diantaranya :

  1. Preliminaries (kamera dicek apakah hidup ? atau perlu warm up terlebih dahulu)
  2. Kabel Kamera (yakinkan semua kabel bisa berfungsi baik)
  3. Mounting/tatakan kamera
  4. Viewfinder
  5. Cable guards (berfungsi untuk mengamankan kamera)
  6. Lens cap (penutup lensa), agar lensa tidak kena debu dsb.
  7. Focus (cek apakah fokusnya baik)
  8. Zoom (cek apakah zoom bisa berjalan normal)
  9. Baterai Kamera
  10. Kaset
  11. Lampu
  12. Microphone

Sinopsis dalam Film

Dalam praktek, sinopsis ini diperlukan untuk memberikan gambaran secara ringkas dan padat tentang tema atau pokok materi yang akan digarap. Tujuan utamanya adalah mempermudah pemesan menangkap konsepnya, mempertimbangkan kesesuaian gagasan dengan tujuan yang ingin di capai dan menentukan persetujuannya.

 clip_image001

Dalam istilah yang lebih sederhana sinopsis dapat diartikan sebagai ringkasan cerita. Konsep sinopsis juga sering digunakan untuk kegiatan seni yang lain, misalnya dongeng, cerita bersambung, komik, pementasan teater, novel, media audio, media slide dan sebagainya. Pada dasarnya konsep sinopsis untuk film/video hampir sama dengan istilah siposis untuk yang lainnya. Dalam penulisannya, tidak diuraikan dengan kalimat yang panjang tetapi cukup beberapa kalimat saja, namun tercakup didalamnya :
tema, even dan alur yang dikemas dengan kalimat yang sederhana dan mudah di pahami.

Contoh Sinopsis.

Contoh-1

"Episode menggambarkan suatu kecelakaan kapal 'Impian'. Dua orang, seorang kakek dan cucu gadisnya, berhasil menyelamatkan diri ke pantai pulau karang".

( Film : “Terdampar di Pulau Karang".)

Contoh-2

“Visualisasi video ini memperlihatkan proses pembuatan patung realistik (patung kepala manusia) dengan teknik cetak ulang atau cor bagan semen. Dimulai dengan pengenalan alat dan bahan, desain, pembuatan model, pembuatan cetakan, pengecoran, penyempurnaan dan penyelesaiaan akhir.

(film pembelajaran Judul : Patung realistik Dengan Bahan Semen)

Contoh-3

Film ini menggambarkan perjuangan seorang lelaki muda yang berusaha bertahan hidup dan berusaha keluar dari sebuah pulau terpencil akibat kecelakaan pesawat terbang, hingga akhirnya dia selamat.
(film Layar Lebar “Case Away”).

Penulisan Naskah Film dan Video

Penulisan naskah secara teoritis merupakan komponen dari pengembangan media atau secara lebih praktis merupakan bagian dari serangkaian kegiatan produksi media melalui tahap-tahap perencanaan dan desain pengembangan, serta evaluasi.

Seperti halnya penulisan pada umumnya, penulisan untuk naskah film maupun video ini juga dimulai dengan identifikasi topik atau gagasan. Dalam pengembangan instruksional, topik maupun gagasan ini dirumuskan dalam tujuan khusus kegiatan instruksional atau pembelajaran. Konsep gagasan, topik, maupun tujuan yang khusus ini kemudian dikembangkan menjadi naskah dan diproduksi menjadi program film atau video.

Dalam praktek, rangkaian kegiatan untuk mewujudkan gagasan menjadi program film atau video ini secara bertahap dilakukan melalui pembuatan sinopsis, treatment, storyboard atau perangkat gambar ceritera, skrip atau naskah program dan skenario atau naskah produksi. Naskah merupakan persyaratan yang harus ada untuk suatu program yang terkontrol isi dan bentuk sajiannya (bandingkan dengan program 'live' yang diambil begitu saja apa adanya meskipun dapat direka rambu-rambu pengendaliannya).

Bagi pembuat film dokumenter tentang alam atau kehidupan binatang seperti yang sering kita lihat pada Discovery Chanel, perencanaan produksi berupa naskah terkadang tidak perlu dibuat dari awal, namun sering terjadi naskah dibuat setelah stock shoot diperoleh. Tidak demikian halnya untuk pembuatan program video pembelajaran dan program film pada khususnya.

Dalam pembuatan film dan video pembelajaran posisi naskah sangat diperlukan seperti pentingnya perencanaan mengajar (baca : satpel) dalam kegiatan KBM. Artinya film pendidikan mengandung misi pendidikan dan pembelajaran yang harus diukur tingkat keberhasilannya, oleh sebab itu naskah mutlak diperlukan, disamping tahapan-tahapan lain dalam keseluruhan kegiatan produksi video

Secara garis besar, terdapat tiga kegiatan utama dalam memproduksi program video yaitu tahap pra produksi, produksi dan pasca produksi. Pra produksi adalah kegiatan-kegiatan awal sebelum kegiatan inti berupa pengambilan gambar dimulai. Meski demikian kegiatan pra produksi cukup penting untuk dilakukan, sebab produk dari kegiatan pra produksi ini akan menghasilkan naskah yang siap di produksi sebagai pedoman untuk semua pihak, yaitu pemain, sutradara, editor, kameramen, pencatat adegan produser dan kru lainnya yang terlibat dalam pembuatan film.

clip_image006clip_image008

Gambar Tahap Kegiatan Produksi

Dalam Pra produksi, sebelum kegiatan penulisan naskah, dilakukan terlebih dulu identifikasi program. Identifikasi program juga merupakan kelanjutan dari beberapa analisa yang dilakukan terhadap kegiatan produksi video yaitu : identifikasi kebutuhan, materi, situasi, penuangan gagasan dll. Isi dari Identifikasi program meliputi :

  1. Judul Program: berisi tentang judul/tema program yang dirumuskan dengan kalimat yang singkat, padat, menarik.
  2. Tujuan / Kompetensi : Dirumuskan dengan jelas, Pada rumusan tujuan  ini perlu dituliskan tujuan umum yang ingin dicapai oleh sasaran setelah mengikuti program ini..
  3. Pokok Bahasan : Penulisan pokok bahasan dilakukan terutama program video yang dibuat berupa video pembelajaran (instructional video/film) yang secara langsung mengacu pada kurikulum yang sudah ada. Jika video yang dibuat adalah film pendidikan, penulisan pokok bahasan dapat dituliskan atau tidak.
  4. Sub Pokok Bahasan :Penulisan sub pokok bahasan ini juga dilakukan terutama program video yang dibuat berupa video pembelajaran (instructional video/film) yang secara langsung mengacu pada kurikulum yang sudah ada,.
  5. Sasaran : sasaran adalah “Target Audience” yang menjadi sasaran utama program ini. Dalam penulisannya mesti dituliskan secara jelas untuk siapa, misalnya untuk siswa SLTP, atau untuk Siswa Sekolah Dasar atau untuk umum.
  6. Tujuan Khusus/Indikator : Apabila program video yang dibuat diambil dari kurikulum maka tujuan atau indikator yang diharapkan perlu dituliskan secara jelas.

Dalam tulisan ini tidak akan diuraikan secara lengkap tahap produksi dan pasca produksi, tetapi lebih terfokus pada kegiatan pra-produksi.

Secara terminologi istilah naskah sama artinya dengan skript dan skenario sama dengan shooting skript.

UNSUR-UNSUR FILM

Unsur-unsur yang terkandung dalam film antara lain :

Penyutradaraan

Sutradara adalah seseorang yang menterjemahkan bahasa naskah ke dalam ”bahasa” suara dan gambar secara spesifik. Seorang sutradara memvisualkan naskah atau script dengan memberikan konsep abstrak ke dalam bentuk yang kongkrit atau nyata. Sutradara membangun sebuah pandangan atau point of view ke dalam suatu gagasan dan menentukan pemilihan shot-shot, penempatan dan pergerakkan kamera, serta mengarahkan akting pemain.

Sutradara bertanggung jawab pada struktur dramatis, alur cerita, yang tercakup dalam audio dan visual. Seorang sutradara harus mampu mempertahankan keingintahuan penonton. Sutradara bekerja bersama kru serta talent (aktris/actor), membangun plotting.

Menurut Roman Polanski, penyutradaraan adalah sebuah gagasan di mana anda harus memiliki keseluruhan alur yang bisa dipaparkan dengan baik. Poin yang terpenting adalah bahwa sutradara harus bisa memimpin.

Skenario

Skenario itu adalah sebuah naskah cerita yang menguraikan urut-urutan adegan, tempat, keadaan, dan dialog, yang disusun dalam konteks struktur dramatik. Seorang penulis skenario dituntut untuk mampu menerjemahkan setiap kalimat dalam naskahnya menjadi sebuah gambaran imajinasi visual yang dibatasi oleh format pandang layar bioskop atau televisi. Adapun fungsi dari skenario adalah untuk digunakan sebagai petunjuk kerja dalam pembuatan film.

Pemeranan

Pemeranan atau peran (pemain sandiwara), menurut pengertian dalam kamus Drama peran berarti proses, cara, perbuatan memahami perilaku yang diharapkan dan dikaitkan dengan seseorang. Sebenarnya asal kata pemeranan adalah  “To Act” dalam Bahasa Indonesia artinya “bereaksi”. Jadi pengertian pemeranan tokoh adalah seni mengekspresikan tubuh , suara dan sukma seseorang dalam sebuah peran. Oleh karena itu jika aktor ingin memainkan tokoh apapun dengan karakter yang sangat berbeda dengan karakter pribadi si aktor maka aktor harus memiliki dasar penguasaan.

Dari beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pemeranan tokoh adalah laku atau perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan karakter.

Tata Sinematografi

Sinematografi sebagai ilmu serapan merupakan bidang ilmu yang membahas tentang teknik menangkap gambar dan menggabung gabungkan gambar tersebut hingga menjadi rangkaian gambar yang dapat menyampaikan ide.

Sinematografi memiliki objek yang sama dengan fotografi yakni menangkap pantulan cahaya yang mengenai benda. Karena objeknya sama maka peralatannya pun mirip. Perbedaannya fotografi menangkap gambar tunggal, sedangkan sinematografi menangkap rangkaian gambar. Penyampaian ide pada fotografi memanfaatkan gambar tunggal, sedangkan pada sinematografi memanfaatkan rangkaian gambar.Jadi sinematografi adalah gabungan antara fotografi dengan teknik rangkaian gambar atau dalam senematografi disebut montase atau montage.

Tata Artistik

Tata artistik dalam komposisi film. Memahami komposisi dalam tata artistik adalah suatu keharusan, karena komposisi adalah suatu unsur yang sangat penting dalam penciptaan karya seni. Secara sederhana komposisi diartikan sebagai cara menata elemen-elemen dalam objek, elemen-elemen ini mencakup garis, shape, form, warna, terang dan gelap. Jadi, pengetahuan tentang komposisi dalam tata artistic akan berguna untuk mendapatkan keseimbangan pandangan yang harmonis.

Penyuntingan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata kerja menyunting memiliki tiga arti. Pertama, menyiapkan naskah siap cetak atau siap untuk diterbitkan dengan memperhatikan segi sistematika penyajian, isi, dan bahasa (menyangkut ejaan, diksi, dan struktur kalimat). Kedua, merencanakan dan mengarahkan penerbitan (surat kabar, majalah). Dan ketiga, menyusun atau merakit (film, pita rekaman) dengan cara memotong-motong dan memasang kembali. Adapun kata penyuntingan, menurut KBBI, memiliki arti: proses, cara, perbuatan sunting-menyunting; segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan menyunting; pengeditan.clip_image002

Tata Suara

Suara adalah kompresi mekanikal atau gelombang longitudinal yang merambat melalui medium. Medium atau zat perantara ini dapat berupa zat cair, padat, gas. Jadi, gelombang bunyi dapat merambat misalnya di dalam air, batu bara, atau udara. Kebanyakan suara adalah merupakan gabungan berbagai sinyal, tetapi suara murni secara teoritis dapat dijelaskan dengan kecepatan osilasi atau frekuensi yang diukur dalam Hertz (Hz) dan amplitudo atau kenyaringan bunyi dengan pengukuran dalam desibel.

Tata Suara adalah suatu teknik pengaturan peralatan suara atau bunyi pada suatu acara pertunjukan, pertemuan, rapat dan lain lain. Tata Suara memainkan peranan penting dalam film. Tata Suara erat kaitannya dengan pengaturan penguatan suara agar bisa terdengar kencang tanpa mengabaikan kualitas dari suara-suara yang dikuatkan. Pengaturan tersebut meliputi pengaturan mikropon-mikropon, kabel-kabel, prosesor dan efek suara, pengaturan konsul mixer, kabel-kabel, dan juga Audio Power amplifier dan speaker-speakernya.

Tata Musik

Musik adalah bunyi yang diterima oleh individu dan berbeda-beda berdasarkan sejarah, lokasi, budaya dan selera seseorang. Definisi sejati tentang musik juga bermacam-macam:

Bunyi yang dianggap enak oleh pendengarnya

Segala bunyi yang dihasilkan secara sengaja oleh seseorang atau kumpulan dan disajikan sebagai music.

Dalam film, music sangat diperlukan agar film menjadi lebih menarik. Untuk itu diperlukan pengaturan music yang digunakan agar nada-nada yang dihasilkan harmonis dan berhubungan dengan jalan cerita dalam film tersebut.

Forum Multimedia Edukasi www.formulasi.or.id

Kategori