Skip to main content

Catatan Lama

Catatan Lama - Beberapa waktu yang lalu, Krishto (salah satu pembuat film 9 Naga) dan Bongky (BIP) berkunjung ke workshop Alurkria. Dengan bermodalkan kopi luwak beberapa gelas, serta beberapa buah bungkus cigarette, kami berdiskusi panjang tentang kondisi industri film Indonesia dan juga kondisi industri musik Indonesia yang sedang kemarau panjang.

Kondisi dunia seni di Indonesia, semakin lama semakin tenggelam gaungnya oleh gerusan teknologi yang memudahkan pembajakan, ditambah kurangnya kepercayaan diri oleh penikmat seni Indonesia untuk mencintai dunia seni di Indonesia ini. Faktor mental dan budaya orang Indonesia yang mudah untuk tidak menghargai karya bangsa sendiri juga menjadi salah satu penyebabnya.

Kami berdiskusi dengan intens plus melakukan beberapa review untuk mencari langkah-langkah yang tepat ke depannya. Kurangnya minta penguasa untuk mengakomodir seniman di Indonesia tidak mengurangi gairah kami untuk membuat perencanaan besar yang bermanfaat bagi banyak pelaku seni.

Bila teknologi telah menjadi pemicu menurunnya industri Film dan Musik, maka kami mencari cara untuk mendapatkan ide solusi yang bagus dengan menggunakan teknologi juga. Secara prinsip, dunia film dan dunia musik memiliki kebutuhan yang sama untuk mengembalikan gairah industrinya, yaitu penambahan tempat untuk berjualan atau outlet yang lebih banyak.

Industri film misalnya, bioskop di Indonesia sendiri lebih suka menempatkan film dari luar negeri menjadi film dengan promosi yang lebih bagus dibanding film dari dalam negeri. Bioskop XXI yang memang notabene perusahaan LN, tentu lebih mengakomodir keberadaan film-film dari negaranya. Film Indonesia sering ditempatkan sebagai penunjang semata. Meski memang harus diakui film Indonesia belum bisa bersaing dengan produksi dari sono, baik dari segi cerita maupun efek, sound dan ornamen lainnya. Namun partisipasi para stake holder dalam bisnis ini semesti ikut membantu bagaimana semuanya bisa berkembang dengan baik secara adil.

Kemudian industri musik. Talenta-talenta berbakat hebat seringkali segera redup bahkan mati karena tidak memiliki penaung produksi yang bagus, adil, jujur dan membela kepentingan seniman. Sering kita mendengar, rekaman sebuah grup band yang belum launching namun bajakannya sudah sampai di ujung pulau Indonesia. Kemudian, ASIRI atau KCI, menunjukkan perilaku yang kontraproduktif. Mereka sering selalu mengemukakan bahwa album produk mereka rugi atau hak cipta dari musisi hanya terhitung sedikit, namun anak-anak produser maupun pengelola KCI bersekolah ke luar negeri, meski tidak mau berpikir negatif tentang mereka tapi apa yang mereka tunjukkan sangat berbanding terbalik dengan apa yang mereka ucapkan.

Obrolan kami memanjang hingga menciptakan sebuah catatan yang juga tak kalah panjang. Kami yakin semua akan kembali menjadi baik dengan kami yang akan memulai melakukan yang terbaik. Sedikit aku bercerita ke mereka, bahwa sebenarnya aku dulu datang ke Jakarta ingin jadi musisi, namun gagal. Cerita yang disambut sedih oleh Bongky, karena kondisi yang aku alami di alami pula oleh banyak orang lainnya.

Akhirnya kami menutup obrolan dengan berjanji untuk sering update tentang rencana kami ke depan.

Salam kreatif.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar