Agama Buddha menjadi salah satu agama terbesar di dunia.

Di Indonesia, agama Buddha termasuk urutan kelima dalam hal jumlah pemeluk.

Bisa dibilang, agama yang satu ini merupakan agama minoritas di Indonesia.

Banyak penyebab yang menjadikan agama Buddha memiliki sedikit umat.

Salah satunya adalah kurang-nya jumlah Sangha di Indonesia (Sangha adalah komunitas bhikkhu Buddha).

Padahal, dalam sejarah Nusantara, Agama Buddha pernah menjadi agama terbanyak umatnya. Tepatnya, pada zaman kerajaan sriwijaya menguasai Nusantara.

--

Kali ini kita akan bahas sedikit tentang intisari agama Buddha.

agama Buddha

Pembahasan ini hanya bertujuan sebagai pengenalan saja.

Untuk mendalami agama ini, tentunya Anda sebaiknya membaca situs-situs terkait, seperti:

--

Dukkha (Adanya Penderitaan)

Dukkha, adalah salah satu ajaran dari 4 kebenaran mulia.

Sekilas info, 4 kebenaran mulia adalah ajaran utama dalam agama Buddha. Melalui 4 kebenaran mulia, seseorang bisa melihat corak kehidupan.

Corak kehidupan ada 3, yaitu: Anicca, Anatta dan Dukkha.

Dukhha dalam 3 corak artinya penderitaan. Sedangkan Dukkha dalam 4 kebenaran lebih kepada "adanya penderitaan".

--

Banyak orang yang tidak sadar bahwa hidup ini sebenarnya penderitaan.

Kalau kita perhalus: hidup ini sebenarnya tidak bahagia.

Kenapa tidak bahagia?

--

Pertama, karena segala sesuatu tidak stabil (anicca).

Anda mungkin merasa bahwa Anda memiliki kehidupan yang menyenangkan. Tapi, apakah Anda bisa menjamin kehidupan Anda akan terus menyenangkan?

Tentu tidak!

Hal-hal tak terduga bisa terjadi, bahkan bisa dipastikan akan terjadi!.

Contoh saja: sakit.

Siapapun tahu, bahwa kesehatan itu tidak pasti. Hari ini sehat, besok bisa sakit.

--

Kedua, karena kita tidak bisa mengendalikan kehidupan.

Anda pasti memiliki keinginan.

Untuk memenuhi keinginan, Anda bekerja keras dan berusaha.

Tapi, karena kita tidak bisa mengendalikan kehidupan, keinginan tidak akan selalu bisa terpenuhi.

Dari sini saja, kita akan memunculkan rasa sakit, penderitaan.

Makanya, Dukkha (adanya penderitaan) menjadi kebenaran pertama dalam 4 kebenaran mulia.

--

Samudaya (Asal Mula Penderitaan)

Setelah kita memahami bahwa hidup ini adalah kondisi yang tidak stabil (dukkha), maka kita harus mencari tahu.

Darimana asal mula penderitaan?

Kebenaran mulia yang kedua memberitahu kita asal mula semua penderitaan kita.

Jawaban-nya: keinginan (nafsu), pelekatan, dan kebodohan (avijja).

1. Nafsu

Dalam hal nafsu, bagi kita yang awam, sudah pasti tidak akan mengenali hal ini.

Kita pikir nafsu memang wajar, dan nafsu adalah kita.

Ketika menginginkan sesuatu, kita dikendalikan nafsu. Tapi kita tidak sadar, kita pikir kita yang menginginkan hal tersebut.

Padahal, nafsu adalah kotoran batin.

Kita telah tercemar oleh kotoran ini, dan bahkan kita sendiri tidak sadar.

--

Ketika kita gali lebih jauh lagi, ternyata kotoran batin ini berasal dari akar beracun yang jauh tertanam di batin kita.

Akar itu adalah: kebencian, keserakahan dan kegelapan batin.

Nafsu muncul berawal dari keserakahan.

Jika tidak kita sadari, nafsu akan mengalir melalui pintu pikiran, ucapan, dan perbuatan.

2. Pelekatan

Belum selesai dengan nafsu, kita mengembangkan rasa melekat.

Kemelekatan juga berasal dari racun keserakahan.

Kita menginginkan sesuatu agar selalu bersama kita.

Seperti seorang anak yang menginginkan mainan-nya.

Ketika sesuatu tersebut berpisah dengan kita, maka kita akan sedih, kecewa, menderita, bahkan marah.

Padahal, sesuai dengan corak kehidupan anicca, segala sesuatu itu tidak pasti dan terus berubah-ubah.

Hari ini kita memiliki rumah, tapi tidak ada jaminan kita akan terus memilikinya.

3. Kebodohan Batin

Dalam hal kebodohan batin, ini bukan maksudnya ketika kita tidak bisa berhitung maka kita bodoh.

Maksud dari kebodohan batin adalah kita tidak tahu bahwa segala sesuatu itu berproses menurut hukum-nya masing-masing.

Dan, hukum itu menyatakan bahwa segala yang berproses, akan terus berubah.

--

Apa itu segala yang berproses?

Tubuh kita, setiap detik, berproses menuju kematian.

Dunia, setiap detik, berproses menuju kehancuran.

Segala yang kita miliki, berproses menuju pemusnahan.

Dan sayangnya, untuk mengatasi kebodohan batin, kita tidak bisa serta merta belajar dan langsung bisa.

Kita harus belajar, tapi juga harus berlatih.

Agar batin kita menjadi terang dan pintar untuk menghancurkan kebodohan batin.

Nirodha (Penghentian Penderitaan)

Kabar baiknya, Buddha hadir di dunia bukan hanya mengajarkan Dukkha dan sebab Dukkha.

Buddha mengajarkan juga cara menghentikan penderitaan kita.

Dalam ajaran Buddha, kita akan mendapatkan pengetahuan tentang kebenaran segala sesuatu.

--

Tidak stop sampai di sana, kita juga akan belajar praktek untuk mengasah kemampuan kita memahami kebenaran.

Manusia punya kapasitas untuk menghentikan penderitaan-nya sampai ke akar-akar-nya.

Dengan demikian, kebenaran mulia yang ketiga: Nirodha akan menjadi kebenaran kita.

Hasil dari berhentinya penderitaan, adalah keadaan yang bahagia, damai, dan stabil.

Dalam Nirodha, kita akan belajar jalan mulia berunsur 8.

Isinya:

  1. Pengertian Benar (sammā-ditthi)
  2. Pikiran Benar (sammā-sankappa)
  3. Ucapan Benar (sammā-vācā)
  4. Perbuatan Benar (sammā-kammanta)
  5. Mata Pencaharian Benar (sammā-ajiva)
  6. Daya-upaya Benar (sammā-vāyāma)
  7. Perhatian Benar (sammā-sati)
  8. Konsentrasi Benar (sammā-samādhi)

Magga (Jalan Menuju Penghentian Penderitaan)

Magga atau Jalan Menuju Penghentian Penderitaan adalah jalan menuju akhir segala penderitaan.

Setelah kita mengerti tentang Nirodha, maka selanjutnya adalah menembus kebenaran dengan mempraktekkan jalan mulia berunsur delapan.

Proses praktek kita menjalankan jalan mulia berunsur delapan disebut Magga, kebenaran mulia yang ke-empat!

Magga adalah panduan praktis yang harus dijalani dan di-internalisasi-kan.

Proses pembebasan ini melibatkan pengenalan, pemahaman, dan akhirnya melepaskan diri dari ketidaktahuan yang merupakan akar dari penderitaan.

Alatnya adalah jalan mulia berunsur delapan, hasilnya adalah Nibbana / Nirvana.

Mencapai akhir dari segala penderitaan, jika kita berhasil menjalankan Magga, maka kita akan selamanya tidak akan menderita lagi.