Abhidhamma : Menjadi Pengamat, Bukan Penikmat

Beberapa waktu yang lalu, saya sendiri termasuk sering mendengar ceramah dari Bhikkhu Ashin Kheminda. Dhamma yang saya terima dari ceramah Beliau masuk ke dalam ajaran Abhidhamma.

Seperti yang kita ketahui, Bhikkhu Kheminda memang terkenal sekali di Indonesia sebagai Bhikkhu yang paling mengalakkan pembelajaran Abhidhamma.

Ketika awal saya tahu tentang Abhidhamma adalah melalui ceramah Beliau melalui Youtube ketika dia membahas tentang Abhidhamma Made Easy.

Tapi sayangnya saya lupa videonya yang mana.

Menekankan Pembelajaran Abhidhamma

Buddha mengajarkan Abhidhamma

Ketika awal saya tahu dan mulai tertarik dengan Abhidhamma, jujur saya merasa ini adalah ajaran yang ribet.

Serius.

Tapi ternyata hal ini sangat berkaitan dengan profesi sebagai Programmer. Ketika saya belajar bahasa pemrograman, pada awal-nya saya juga merasa sangat ribet.

Hanya saja karena saya sendiri adalah orang yang sangat tertarik dengan hal-hal yang rumit, maka saya terus maju mempelajari.

Dan hal ini juga ternyata berlaku terhadap pembelajaran saya terkait Abhidhamma. Dhamma yang satu ini sangatlah menarik.

Karakteristik-Nya :

  1. Detil (Terperinci)
  2. Absolut (Hakiki)
  3. Nyata (Realitas)

Secara singkat, bisa kita katakan bahwa Abhidhamma adalah ajaran yang menguak rahasia setiap proses fenomena yang terjadi di dunia.

Jadi, apa yang akan saya bahas kali ini?

Belajar Menjadi Pengamat yang Mindful

Belajar mindful sehari-hari

Kita lupakan sejenak pembahasan saya tentang Abhidhamma dulu, karena saya ingin berbagi pengalaman saya mempelajari ajaran Buddha yang Luhur ini.

Saya ingin membahas tentang pengalaman saya berlatih menjadi pengamat, bukan penikmat. Maksudnya adalah, berlatih untuk terus benar-benar menyadari setiap proses yang terjadi tanpa meditasi.

Dari pengalaman saya belajar dan mendengar ceramah Beliau tentang mahasatipatthana (playlist youtube klik sini), maka saya pun berlatih demikian:

  • Setiap hari mulai dari bangun pagi, menyadari setiap proses pergerakan materi (tubuh) dan keadaan mental (batin) ketika berjalan ke toilet.
  • Menyadari apa-yang-terjadi ketika menggosok gigi, sampai mandi.
  • Menyadari ketika menyetir sampai makan.
  • Senantiasa berusaha menyadari apa yang muncul di mental dan tubuh (rasa sakit / netral).

Awalnya terkesan sangat mudah, kita cukup menyadari dan mengamati proses nama-rupa setiap momen melalui Satti. Sayangnya, praktik ini nyatanya sangatlah sulit dilakukan.

Hanya sekejap saja, batin bisa terlena dengan pemikiran masa lalu dan juga masa depan. Sulit sekali diam.

Tapi dengan tekun dan gigih, saya terus berlatih demikian. Sampai-sampai beberapa kali saya bisa menyadari ketika bermimpi, maka itu hanyalah mimpi.

Dan yang terakhir, saya rasakan bahwa kepanikan yang sering kali terjadi pada saya pada momen tertentu berkurang banyak. Saya ketika marah, akan tahu bahwa batin sedang diliputi kemarahan.

Tidak perlu bereaksi, dan tidak perlu mendengar setiap “suara” yang terdengar dari dalam hati.

Juga, terasa sekali ketika mengamati batin yang diliputi kemarahan (kebodohan batin), maka akan muncul “cetanā” yang memberi instruksi “salah” secara terus menerus.

Sejauh ini, saya merasa sangat senang dengan praktik “kecil” yang saya lakukan. Akan saya update lagi mengenai perkembangan pratik saya.

Tinggalkan komentar